....:::Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh. Sugeng Rawuh Dateng MUST IMAM BLOG, Semoga Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan. Jangan lupa tinggalkan pesan Anda di Buku Tamu:::....
Must Imam Blog: kajian agama

.::Kenali Aku::.

Foto Saya
Mam
Olahraga dan belajar agama membuat sehat jasmani dan rohani
Lihat profil lengkapku
Tampilkan postingan dengan label kajian agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian agama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Desember 2009

Khutbah Idul Adha 7 Dzulhijjah 1430 H /2009

MENELADANI AKHLAQ NABI IBRAHIM DAN KELUARGANYA

Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah

Kembali di pagi yang indah ini kita pekikkan lagi kalimat takbir, tahlil dan tahmid.

Allahu Akbar, Allah Maha Besar, kita semua yang ada disini kecil di hadapan Allah. pangkat, kedudukan, harta yang kita punya semua kecil di mata Allah, karena memang semua itu adalah milik Allah.

Lailahaillallah, tiada Ilah selain Allah, tiada yang patut disembah kecuali Allah, tidak ada yang bisa diharapkan kecuali kita bersandar kepada Allah, tidak ada yang patut kita takuti kecuali hanya takut kepada Allah, tidak ada yang patut kita cintai kecuali cinta kita satu-satunya hanya untuk Allah.

Walillahil Hamd, segala puji hanya milik Allah. Kita tidak pantas dipuji istri atau suami tidak pantas dipuji, anak tidak pantas dipuji, harta, pangkat, posisi dan kedudukan, semua tidak pantas untuk dipuji karena memang semua itu adalah kepunyaan Allah.


Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Kalimat-kalimat tersebut yang kita kumandangkan sampai 3 hari kedepan ini, rasanya baru saja kita kumandangkan di saat kita sukses mengikuti madrasah Ramadhan yang kemudian kita beridul fitri bersama.
Idul Fitri - kita tahu semua, Allah ingin mencetak kita menjadi manusia-manusia bertaqwa secara individual, kemudian saat ini serasa Allah ingin menyempurnakan integritas taqwa ini dengan momentum Idul Adha, ketaqwaan komunal yaitu (Islamisasi keluarga dan masyarakat).

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd
Peringatan hari raya Idul Adha ini tidak bisa dilepaskan dari peristiwa bersejarah ribuan tahun silam ketika Ibrahim AS. dengan penuh ketaqwaan memenuhi perintah Allah untuk menyembelih anak yang dicintai dan disayangi, Ismali AS. Atas kehendak dan kekuasaan Allah secara tiba-tiba justru yang disembelih oleh Ibrahim AS. telah berganti menjadi seekor domba. peristiwa itulah yang kemudian menjadi simbol umat Islam sebagai wujud ketaqwaan seorang manusia mentaati perintah Allah SWT. Ketaqwaan Ibrahim kepada Allah SWT diwujudkan dengan sikap dan pengorbanan secara totalitas, menyerahkan sepenuhnya kepada Sang Pencipta dari apa yang ia percayai sebagai sebuah keyakinan.

Dalam Al-Qur'an (Surat Yusuf Ayat : 111) Allah SWT. Berfirman







”Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”

Betapa eratnya ujian dan cobaan yang dialami Ibrahim AS. Beliau harus menyembelih anak semata wayang, anak yang sangat disayang. Namun, atas dasar iman, tulus ikhlas, taat dan patuh akan perintah Allah SWT., Ibrahim AS. Akhirnya mengambil keputusan untuk menyembelih putra tercintanya Ismail, dan beliau memanggil putranya dengan panggilan yang diabadikan dalam Al-Qur’an (Surat Ash-Shaaffaat Ayat : 102)







” Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim. Ibrahim berkata: ”Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: ”Hai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Ismail sebagai anak yang sholeh senantiasa patuh pada orang tua, tidak pernah membantah perintah orang tua, setia membantu orang tua diantaranya membangun Ka’bah Baitullah di Makkah al-Mukarromah.

Ada beberapa ibrah atau pelajaran yang bisa kita petik dari keluarga Ibrahim AS ini, diantaranya :

1. Sebagai orang tua atau pemimpin tidak boleh bertindak otoriter atau sewenang-wenang.
Orang tua yang baik adalah orang tua yang mendidik anak dengan contoh dan keteladanan. Seorang pemimpin yang baik akan ditiru oleh rakyatnya jika ia memberi contoh perilaku yang baik. Seorang pemimpin tidak diikuti ucapannya tetapi perilaku dan tindak tanduknya. Seorang pemimpin juga harus menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis, tidak selalu memberikan perintah-perintah, tetapi juga harus mendengarkan aspirasi rakyatnya. Sungguh sangat banyak kalau kita mengambil pelajaran dari kisah Ibrahim ini sebagai sosok ayah bagi anaknya, pemimpin bagi rakyatnya, belum lagi kita berbicara tentang sosok dia sebagai Abul Anbiya’, Abut Tauhid dan seorang Da’i ilallah.

2. Peran sang ibu dalam mendidik sehingga melahirkan anak yang sholeh.
Peran seorang ibu sebagai madrasah/ sekolah utama dan pertama bagi anak itu sangat penting. Pendidikan anak sholeh dimulai dari saat pertemuan benih dan sel telur, diawali do’a mohon perlindungan dari setan. Mulai dari kandungan banyak dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an, dari peran ibulah karakter anak sholeh dapat terbentuk. Intensitas pertemuan yang cukup, memungkinkan penanaman dan sosialisasi nilai-nilai normatif, akhlaq dan perilaku terpuji lainnya dan terinternalisasi pada diri anak.

Hajar AS, Telah meberikan contoh yang indah buat kita semua, kita bisa bayangkan bagaimana ketaatan dia kepada sang suami, dan dalam kondisi hamil besar harus siap ditinggal oleh sang suami tercinta dalam rangka berda’wah, walaupun sesaat muncul naluri keibuannya karena harus ditinggal di tempat yang tandus, tak berpenghuni, dan tidak ada keluarga, seraya berkata: ”Allahkah yang memerintahkan engkau wahai Ibrahim untuk berbuat seperti ini ?” Ibrahim menjawab : ”Ya”, dia berkata lagi : ”Silahkan kau pergi, aku yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan diriku”. Subhanallah, inilah potret sosok wanita sholehah.

3. Pembentukan anak sholeh sangat tergantung pada orang tua.
Banyak orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan itu akan terbentuk hanya di sekolah-sekolah, jadi tidaklah perlu orang tua mengarahkan anak-anaknya itu. Bahkan ada sebagian orang tua tidak tahu tujuan dalam mendidik anak. Perlu kita fahami, bahwasanya pendidikan di rumah yang meskipun sering disebut pendidikan informal, bukan berarti bisa diabaikan begitu saja, orang tua harus memahami bahwa keluarga merupakan institusi pendidikan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan institusi pendidikan formal. Ini bisa dimengerti karena keluarga merupakan sekolah paling awal bagi anak, di keluargalah seorang anak pertama kali mendapat pengetahuan, pengajaran dan pendidikan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd
Ma’asyiral muslimin, Pagi ini kita melaksanakan sholat Idul Adha, yang kemudian kita diperintah untuk berqurban. Kita qurban dalam bahasa Arab berarti mendekatkan diri, Dalam fiqih Islam dikenal dalam Islam udh-hiyah, sebagian ulama mengistilahkan dengan an-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam Al-Qur’an (Surat Al-Kautsar Ayat : 2)




”Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah

Ma'asyiral Muslimin, qurban bukan sekedar menyembelih binatang kambing dan sapi dan dagingnya kemudian disedekahkan kepada fakir miskin. Akan tetapi secara filosofis makna qurban meliputi aspek yang lebih luas. Dalam konteks sejarah, dimana umat islam menghadapi berbagai cobaan, maka pengorbanan amat luas dan mendalam.

Sejarah para Nabi, misalnya Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini memerlukan pengorbanan. Sikap Nabi dan para sahabat itu ternyata harus dibayar dengan pengorbanan teramat berat yang diderita oleh umat Islam di Makkah ketika itu. Umat Islam disiksa, ditindas dan sederet tindakan keji lainnya kaum kafir Quraisy. Rasulullah pernah dilempar dengan batu oleh penduduk Tha’if, dianiaya oleh Ibnu Muith ketika leher beliau dicekik dengan usus unta, Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakuan Beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal, ditindih dengan batu besar yang panas di tengah-tengah sengatan terik matahari, Yasir dibantai dan seorang ibu yang bernama Sumayyah ditusuk kemaluannya dengan sebatang tombak sampai ia syahidah. Tak hanya itu, umat islam di Makkah ketika itu juga diboikot untuk tidak melakukan transaksi dagang. Akibatnya, bagaimana lapar dan menderitanya Rasul dan para sahabatnya sehingga beliau dan para sahabatnya terpaksa makan kulit kayu, daun-daun kering, bahkan kulit sepatu bekas.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah

Sejarah Nabiyullah Yusuf juga demikian, disiksa dan dibuang ke sumur tua oleh saudaranya. Ini adalah bagian dari pengorbanan beliau menegakkan kebenaran.

Begitu juga Nabi Musa AS, yang mengalami tekanan tidak hanya dari Fir’aun tetapi juga dari kaumnya adalah juga wujud dari pengorbanan beliau.
Dan begitulah seharusnya kisah-kisah para Nabi yang lainnya.

Dalam konteks kekinian, pengorbanan umat Islam di berbagai belahan dunia juga terlihat nyata dihadapan kita. Palestina, Kashmir, Thailan Selatan dan Filipina Selatan. Dengan sikap dan keyakinan mereka terhadap Islam, mereka harus mengalami berbagai penyiksaan dan penindasan dengan penguasa. Umat Islam di Palestina menjadi gambaran betapa pengorbanan yang dipikul teramat berat. Mereka mengalami penyiksaan, penganiayaan, dan bahkan blokade di kawasan jalur Gaza oleh Israel laknatullah. Akan tetapi, umat Islam di Palestina tidak ada kata menyerah. Mereka terus berjuang membela martabat dan kehormatan bangsa dan agamanya. Sama halnya dengan yang terjadi di kawasan lain dunia.

Dalam sejarah perjuangan bangsa, para pahlawan kita mengorbankan jiwa dan raga, harta benda untuk kemerdekaan bangsanya. Kita kenal Jendral Sudirman yang keluar masuk hutan memimpin tentara Indonesia berjuang melawan Belanda, Sikap para tokoh bangsa yang dipenjara. Dibuang, dan disiksa adalah wujud dari keyakinan mereka akan kebenaran. Ribuan nyawa yang mati adalah pengorbanan mereka terhadap negeri ini, Tentu saja, mereka berkorban atas dasar sikap yang mereka percaya sebagai sebuah kebenaran.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd

Dalam konteks keseharian kita, pengorbanan juga bisa dilihat dari pengorbanan seorang pemimpin yang berusaha untuk mensejahterakan rakyatnya, pengorbanan seorang istri terhadap suami dan anak-anaknya, serta sebaliknya anak terhadap kedua orang tuanya. Seorang pemimpin yang adil terhadap rakyatnya dan berusaha memberikan kontribusi bagi negaranya adalah wujud pengorbanan. Seorang suami sebagai kepala rumah tangga berjuang membanting tulang demi menafkahi dan membahagiakan keluarga, sebagaimana seorang istri mengabdi setia terhadap suami juga wujud pengorbanan. Orang tua yang mendidik dan membesarkan anak sehingga menjadi anak yang sholeh dan berhasil dalam kehidupannya adalah wujud pengoranan.

Denga demikian, pengorbanan bisa berdimensi luas. Pengorbanan adalah sebuah konsekuensi logis dari keyakinan yang diperjuangkan demi sebuah kebenaran.

(Lihat Al-Qur’an Surat Al-Qashash Ayat : 57)







"Dan mereka berkata: ”Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami”. Dan apakah kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah

Sekedar merenungi kembali momentum Idul Qurban, kesanggupan Nabi Ibrahim menyembelih anak kandungnya sendiri ukan semata-mata didorong oleh perasaan taat setia yang membabi-buta (taqlit) tetapi meyakini bahwa perintah Allah SWT itu harus dipatuhi. Bahkan, Allah SWT memberi perintah seperti itu sebagai peringatan kepada ummat yang akan datang bahwa adakah mereka sanggup mengorbankan diri, keluarga, dan harta benda yang disayangi demi menegakkan perintah Allah.

Hidup adalah sebuah perjuangan dan setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Tidak akan ada pengorbanan tanpa kesusahan. Justru kesediaan seseorang untuk melakukan pengorbanan termasuk uang, tenaga dan waktu akan benar-benar menguji keimanan seseorang.


Oleh : H. Muhammad Shaleh Drehem, Lc.


Baca Selanjutnya...

Sabtu, 22 Agustus 2009

Kajian Takhobbar Ba'dha Dhuhur (1)

Kamis, 04 Juni 2009 - Dalam pertemuan kali ini, mari kita mencoba merenungkan dan mengambil hikmah dari kisah hidup seorang ulama shaleh yang bernama Hatim al-Asham (Hatim Si Tuli). Beliau adalah seorang ulama yang pernah berguru kepada Syekh Syaqiq Al-Balkhi selama 30 tahun. Di akhir studinya, Syekh Syaqiq Al-Balkhi bertanya kepadanya: “Wahai Hatim, engkau telah bersamaku selama 30 tahun. Apa yang kau dapatkan selama ini ?” Hatim al-Asham menjawab : “Wahai Guru, ada 8 faidah ilmu yang saya dapatkan dan saya menganggapnya itu sudah cukup bagiku untuk menghantarkanku kepada keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat nanti” Syekh Syaqiq Al-Balkhi bertanya “ Apa saja itu, tolong sebutkan” Hatim al-Asham menjawab :

Pertama : Saya melihat dan mengetahui bahwa setiap orang pasti memiliki sesuatu yang dicintai dan dirindukan. Sebagian yang dicintai hanya akan bersama sampai dia mati atau menghantarkannya sampai ke liang kubur. Semuanya akan meninggalkannya sendirian di dalam kubur dan tidak satupun yang mengikutinya masuk ke kubur. Maka aku berfikir bahwa sesuatu yang paling baik untuk di cintai adalah sesuatu yang akan mengikutinya masuk ke dalam kubur dan menghiburnya serta menyenangkannya. Sesuatu itu adalah Amal Shaleh. Karena itulah maka aku memilihnya agar itu menjadi cahaya bagiku alam kubur yang gelap dan menjadi teman yang menyenangkan bagiku.

Kedua : Saya melihat,banyak manusia mengikuti hawa nafsunya dan begitu menggebu untuk mendapatkan keinginan-keinginan dirinya. Maka saya renungkan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat (An-Naazi’aat ayat : 40-41)









"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhan Nya, dan mencegah diri dari mengikuti hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya".


Al-Qur’an pasti benar, maka aku ikuti.

Ketiga : Saya melihat,setiap orang berusaha keras mencari harta dunia dan kemudian menggenggamnya erat-erat. Maka aku renungkan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat (An-Nahl ayat : 96)







"Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan"

Maka aku kemudian berusaha mendapat ridha Allah dan kemudian aku distribusikan kepada fakir miskin agar menjadi investasi dan deposito disisi Allah.

Keempat : Saya melihat sebagian manusia menyangka bahwa keagungan dan kemuliaan itu adalah terletak pada banyaknya pengikut dan pengunjung, akhirnya mereka tertipu karenanya; sebagian yang lain menganggapnya ada pada banyaknya harta dan banyaknya anak sehingga menyombongkan diri karenanya; sebagian yang lain menganggap keagungan itu adalah apabila mereka melakukan korupsi dan manipulasi, pembunuhan dan penganiayaan pada manusia lain; sebagian yang lain menganggap keagungan itu adalah apabila ia bisa menghambur-hamburkan uang dan harta bendanya. Maka saya merengkan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat (Al-Hujuraat ayat : 13)







"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal"

Maka saya pilih taqwa dan prasangka mereka semua salah.

Kelima : Saya melihat, sebagian manusia saling menghina satu dengan yang lainnya dan berghibah satu dengan yang lainnya. Dan saya melihat bahwa semua itu sumbernya adalah iri dengki karena harta, pangkat dan ilmu. Maka saya renungkan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat (Az-Zukhruf ayat : 32)









"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan"

Keenam : Saya melihat manusia bermusuhan satu dengan yang lainnya karena suatu tujuan dan sebab. Maka saya merenungkan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat (Al-Faathir ayat : 6)








"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala"

Ketujuh : Saya melihat manusia begitu ngoyo, berusaha keras untuk mendapatkan makanan dan penghidupan, sampai tidak peduli lagi dengan haram dan syubhat, tidak peduli lagi dengan harga dirinya Maka saya renungkan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat (Huud ayat : 6)






"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz)"

Kedelapan : Saya melihat setiap orang berpegang kepada makhlu, seperti uang, harta jabatan, kekuasaan, berhala dan makhluk yang lain. Maka saya merenungkan firman Allah : “ Barang siapa yang tawakkal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya, Allahlah yang menyelesaikan permasalahannya, setiap sesuatu telah dibuatkan ketentuannya oleh Nya, sesuai firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat (At-Talaq ayat : 3)






"Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu"

Maka saya bertawakkal kepada Allah.

Syekh Syaqiq Al-Balkhi berkata : "Ya Hatim, Allah telah memberikan tawtiq kepadamu. Menurutku, Taurat, Injil, Zabur dan Qur’an semuanya adalah berputar kepada delapan faidah yang kau sebutkan. Barang siapa yang melakukannya maka ia berarti telah melaksanakan kitab suci yang empat itu".
Sekian, mari kita renungkan dan semoga Allah membimbing kita. Amin.

Tauziyah oleh : Ust. DR. H. Ahmad Imam Mawardi, MA

Baca Selanjutnya...

Jumat, 21 Agustus 2009

Kajian Takhobbar Ba'dha Dhuhur (2)

Be Happy, Productive and Contributive Person

Kebahagiaan adalah barang mahal dalam kehidupan manusia, sebab ia belum tentu dengan mudah dimiliki oleh orang-orang kaya yang punya kedudukan serta orang kaya yang punya reputasi dan nama besar dalam berbagai bidang kehidupan.

Ia juga tidak otomatis dimiliki oleh mereka yang miskin, berstatus sosial rendah serta mereka yang tidak begitu di kenal.

Kebahagiaan adalah keadaan diri manusia yang bisa dicapai oleh siapapun oleh karena ia bisa memberi kebutuhan yang diperlukan oleh dirinya yang meliputi kebutuhan spititual, kebutuhan emosional, kebutuhan intelektual serta kebutuhan fisik operasional.


Dan anda akan bahagia dalam hidup ini jika semua kebutuhan hidup anda terpenuhi secara benar dan mencukupi.

Secara spiritual anda butuh keyakinan, ketenangan, kedamaian, ketentraman, semangat, keberanian, kekuatan harapan, rasa keberadaan diri yang berguna bagi semua.

Secara emosional anda butuh kehangatan kasih sayang keluarga, kesetiaan persahabatan, kepedulian kepada sesama.

Secara intelektual anda butuh pengetahuan dan ilmu.

Secara operasional fisik anda bgerak, bekerja, berolah raga dan sebagainya.

Produktif

Jika anda hanya bisa bahagia tetapi tidak bisa menghasilkan sesuatu nilai tambah dalam kehidupan yaitu berupa beragam prestasi dalam kehidupan anda, anda akan kehilangan rasa keberadaaan anda. Anda bisa membaca, menuntut ilmu, bisa bekerja, bisa berdo'a, bisa berlatih beragam kemampuan sesungguhnya itu adalah sebuah prestasi dasar dalam hidup anda.

Kontributif

Akan tetapi jika anda hanya menjadi pribadi produktif tetapi tidak punya daya guna untuk kontribusi kepada sesama hidup anda akan sangat kehilangan kebahagiaan yang sejati.

Oleh karenanya dasar dan sekaligus puncak kebahagiaan adalah jika anda dapat menjalani hidup dengan semangat pengabdian kepada Allah Tuhan Yang Maha Mencipta dengan dorongan rasa terima kasih anda kepada-Nya, rasa rindu anda untuk selalu dekat dengan-Nya, rasa tulus ikhlas anda untuk selalu mengabdi kepada-Nya dan berkontribusi kepada makhluknya aga anda kemudian mendapat kasih sayang, cinta perkenan dan ridho-Nya.

Tauziyah oleh : Akhmad Arqom

Baca Selanjutnya...

.::Pengikut Blog Ini::.

.::Banner Ku::.

Banner Ambil Disini...
<img src="cooltext439036029.png" onmouseover="this.src='cooltext439036029MouseOver.png';" onmouseout="this.src='cooltext439036029.png';" />

.::Ngaji Dulu Yukk::.

.::Album Ku::.


Must Imam Blog ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO