....:::Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh. Sugeng Rawuh Dateng MUST IMAM BLOG, Semoga Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan. Jangan lupa tinggalkan pesan Anda di Buku Tamu:::....
Must Imam Blog: Liburan

.::Kenali Aku::.

Foto Saya
Mam
Olahraga dan belajar agama membuat sehat jasmani dan rohani
Lihat profil lengkapku
Tampilkan postingan dengan label Liburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liburan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Oktober 2009

Napak Tilas Ke Air Terjun Sedudo

Surabaya, 11 Oktober 2009 - Perjalanan kurang 3 jam dari kota buaya sampai kediaman shohibul baith di kota Nganjuk terasa sangat lancar karena masih pagi, acara silaturahmi rutin setiap triwulan ini diawali dengan kangen-kangenan, suasana seperti ini memang selalu dinantikan apalagi masih dalam suasana Idul Fitri tak lupa saling berpelukan untuk bermaaf-maafan, usai beramah tamah rombongan sebanyak 6 mobil yang ikut berkonvoi menuju lokasi wisata di kota Nganjuk yang cukup terkenal wisata Air terjun Sedudo, jadi teringat 30 tahun lalu saat usia masih remaja setiap bulan Syuro dengan berjalan kaki puluhan km. untuk bisa mencapai Air terjun Sedudo. Sudah terbayang jalan berliku dengan tanjakan cukup ekstrem, ternyata benar walau sekarang kondisi jalanya sudah cukup bagus saat melihat rambu-rambu “Gigi Satu” membuat nyali jadi teruji, kalau kendaraan kurang sehat bisa fatal akibatnya, apalagi di kiri atau kanan terdapat jurang yang curam.

~ Terlihat air terjun bagai garis putih

Informasi yang beredar sekarang sudah ada tempat parkir mobil, di dalam benak kami terbayang parkir yang luas dan nyaman, memang ada namun berjajar ke belakang memakan separo jalan sehingga kalau mau lewat harus bergantian dengan di pandu petugas yang mambawa HT, di ujung jalan atas ada sedikit tempat luang untuk bisa putar balik dengan hati-hati karena depannya jurang sangat curam, pada hari minggu biasa tidak terlalu ramai masih cukup nyaman, namun pada masa liburan bisa dibayangkan repotnya untuk mendapatkan tempat parkir dengan kondisi jalan menanjak hanya cukup untuk bersimpangan bergantian, bagi pengendara sepeda motor lebih memungkinkan bisa lincah bergerak dengan perparkiran yang luas



~ Air dingin bukan halangan


Dari kejauhan sudah terlihat air terjun yang begitu menawan udara dingin mulai terasa, dengan menuruni anak tangga yang cukup panjang nan curam sampai di pelataran kolam penampungan air terjun, bagi yang berniat mandi bisa langsung menikmati sensasi dengan mandi dibawah air terjun yang terasa dipijit-pijit, namun yang enggan cukup dengan cuci muka atau cuci kaki agar bisa ikut merasakan dinginya air.

Air terjun Sedudo terletak di Desa Ngliman Kec. Sawahan. Jaraknya sekitar 30 km arah selatan Ibu Kota Kab. Nganjuk. Udaranya bersih dan sejuk. Terletak pada ketinggian 1438 m dpl. Ketinggian air terjun ini sekitar 105 meter. Masyarakat setempat masih mempercayai, air terjun in memiliki kekuatan supra natural. Lokasi wisata alam ini ramai dikunjungi orang pada setiap Bulan Syuro atau bulan Muharam dalam tahun Hijriyah. Konon mitos yang ada sejak jaman Mojopahit, pada bulan itu dipercaya membawa berkah awet muda bagi orang yang mandi di air terjun tersebut. Sebab pada bulan itulah, air terjun Sedudo dipergunakan untuk upacara ritual yaitu memandikan arca dalam upacara Parna Prahista, yang kemudian sisa airnya dipercikan untuk keluarga agar mendapat berkah keselamatan dan awet muda.


~ Tua muda besar kecil berebut mandi dibawah air terjun


Diantara begitu banyaknya pengunjung yang sedang mandi terlihat seorang nenek renta dipandu keluarganya rela menggigil kedinginan, kayaknya berkeyakinan bisa muda lagi, kalau muda lagi apa mau menikah lagi nek... Namun keyakinan seperti itu oleh beberapa rekan dalam rombongan kami menjadi bahan cerita dan gurauan yang cukup menarik, memang setelah kita menempuh perjalanan jauh badan terasa penat, mandi dibawah air terjun memang sangat menyegarkan, badan yang segar diibaratkan bagai muda lagi itu mungkin yang dimaksud awet muda, seperti yang tertulis di kaos souvenir yang banyak di pajang “semakin sering mandi air terjun Sedudo maka anda semakin awet muda” bisa saja bikin iklan biar sering berkunjung dan dagangannya laku, dua orang kakek dalam rombongan kami ikut berbabur mandi di air terjun namun dengan alasan ingin merasakan sensasinya seperti dipijit-pijit dan menikmati kesegaran air pegunungan, sebagai orang yang beriman memang seharusnya tidak meyakini hal-hal yang berbau tahayul.

~ Tidak ikut mandi nampang juga boleh

Kita lupakan cerita tahayul yang konon mandi di air terjun Sedudo bisa awet muda, kawasan wisata air terjun Sedudo cukup menarik untuk wisata keluarga, untuk mencapai pelataran kolam dengan menuruni tangga membuat nafas ngos-ngosan membuat kenangan tersendiri namun sayang fasilitas penunjang masih kurang seperti penginapan, play ground dan arena hiburan lainnya sehingga sekali berkunjung akan enggan untuk kembali, kecuali bagi para muda-mudi tidak akan bosan sering berkunjung karena lokasinya memungkinkan untuk berduaan, berlama-lama bercengkerama dibawah percikan air terjun, di salah satu papan peringatan bertuliskan "dilarang berbuat mesum bila tidak ingin menyesal kemudian hari" menandakan lokasi ini menjadi tempat favorit para remaja.

Baca Selanjutnya...

Kamis, 24 September 2009

Serba-Serbi Perjalanan Mudik 2009

Surabaya, 18 September 2009 - Tradisi mudik merupakan kegiatan yang tidak akan terlewatkan bagi sebagian besar masyarakat, setelah sebulan menjalankan kewajiban puasa Ramadhan maka tibalah saat yang ditunggu-tunggu untuk bisa berkumpul dengan orang tua, saudara, kerabat dan handai taulan guna mempererat tali silaturrohim, maka sudah bisa dibayangkan semangat untuk mudik sangat menggebu walau untuk mewujutkan hal tersebut diperlukan perjuangan yang tidak ringan mulai dari persiapan waktu libur atau cuti yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, modal yang tidak sedikit, berdesak-desakan karena jalanan macet dan masih banyak lagi cerita seputar mudik.

Bagi keluargaku mudik merupakan suatu kewajiban kecuali bila ada alasan yang lebih penting, walau tujuan mudik tidak terlalu jauh hanya ke kota minyak Cepu dan kota tahu Kediri namun dengan kondisi jalan yang padat dan jalan bergelombang memerlukan ekstra hati-hati agar selamat sampai di tujuan. Kami memulai perjalanan dari Surabaya Jum'at pagi dengan harapan jalan belum terlalu padat dan bisa sampai di Cepu sebelum sholat Jum'at, ternyata cukup ampuh perjalanan cukup lancar hanya kendaraan R2 yang mendominasi jalan, banyak pengendara R2 yang kurang disiplin dalam berlalu-lintas dengan berjalan zig-zag bahkan banyak yang terlalu ke kanan sehingga memakan jalur mobil belum lagi ditambah dengan barang bawaan yang ekstra banyak tanpa mengindahkan keselamatan, perjalanan juga sedikit terganggu dengan adanya beberapa pasar tumpah, pengunjung yang ramai mungkin belanja untuk persiapan Lebaran. Pasar Babad yang biasanya semrawut ternyata lancar mungkin karena masih jam 07.30 pagi, baru di pasar Baureno Dokar, sepeda motor tumplek bleg sehingga jalan tersendat dan beberapa pasar hampir sama keadaannya, setelah menyusuri jalan bergelombang Bojonegoro ke arah Cepu jam 09.30 sampai juga di rumah dengan udara yang sangat panas bahkan lebih panas dari kota Surabaya yang terkenal cukup panas.

Setelah menuntaskan puasa hari yang ke 29 seusai magrib masih bertanya-tanya apakah hari minggu masih berpuasa, walau sedih ditinggalkan bulan Ramadhan yang penuh ampunan lega juga bisa menyelesaikan puasa secara penuh, Pada jam 19.00 malam ada pengumuman dari menteri agama bahwa lebaran jatuh hari Minggu seketika suasana menjadi riang gembira terutama anak-anak. Di masjid, langgar, mushola dan surau langsung dikumandangkan Takbir dengan menyebut kebesaran Illahi. Pagi sekali sudah banyak warga yang berduyun-duyun menuju masjid untuk melaksanakan sholat Idul Fitri dengan dilanjutkan bersalam-salaman, barulah saat yang di tunggu tiba dengan duduk berjajar di ruang tamu untuk menunggu giliran bersalam-salam antar saudara, tangis bahagia mengiringi acara jabat tangan dan anak-anak sudah menunggu moment berikutnya pembagian uang sangu lebaran, tidak membedakan besar kecil mendapatkan jatah yang sama, moment yang sayang untuk dilewatkan dan tidak akan didapatkan di luar lebaran.

~ Raut wajah anak-anak yang bahagia

Tradisi saling mengunjungi masih terasa walau tidak seramai tahun-tahun sebelumnya, secara bersama keluarga besar kami mengunjungi sanak saudara dan kerabat, bahkan ketika memasuki rumah yang di kunjungi sering tidak muat karena banyaknya rombongan, namun tidak masalah tetap saja bahagia karena bisa ketemu saudara walau mungkin hanya setahun sekali bertepatan hari lebaran. Usai acara silaturohhim rasanya kurang lengkap kalau tidak mencicipi kuliner khas daerah Cepu antara lain tempe mendoan, serabi hangat, aneka bakso, soto daging Bondet, sate ala Blora, ayam goreng kremes, bubur campur dan masih banyak lagi yang bisa dipilih, memang di setiap kota hampir semua jenis makanan tersebut ada namun dengan resep yang beda akan rasanyapun jadi beda.

~ Nostalgia masa kecil
Pada hari kedua lebaran jam 13.00 siang kami melanjutkan perjalanan ke Kediri dengan jalan sangat bergelombang, sebagian jalan antara Padangan ke kota Ngawi sangat parah jalan kelihatan halus namun kalau tidak waspada mobil bisa terpental jadi kesabaran kita untuk tidak terlalu memacu mobil diuji disini, dan selapas Ngawi melewati Karangjati, Caruban hingga Saradan lancar dari Saradan ke arah kota Nganjuk sudah tradisi setiap tahun selalu padat bahkan cenderung merayap dan macet, lepas dari kepadatan di Nganjuk menuju kota Kediri tepatnya di Gringging sangat lancar, sehingga tepat jam 16.00 sudah sampai dirumah dengan udara yang sangat berbeda dengan di kota sebelumnya, disini tiupan anginnya sangat keras karena memang terkenal kota angin, bahkan di malam hari suara angin terdengar kemerosok meniup pepohonan, cuaca yang cukup sejuk dan dingin sangat nyaman untuk beristirahat.

~ Main Kembang mengasyikan
Tradisi yang sudah turun-temurun masih sangat kenthal di pedesaan di wilayah Gringging bahkan Kediri, acara silaturrahim dengan saling mengunjungi masih sangat ramai, mengunjungi kerabat yang rumahnya di desa seberang cukup jauh tidak menyurutkan niat. Kalau di amati yang membedakan lebaran jaman dahulu banyak anak-anak yang memakai sarung dan songkok namun lebaran sekarang sudah banyak yang pakai celana Jean tanpa songkok yaahh... mungkinkah itu karena pengaruh budaya dari kota. Main petasan dan kembang api masih menghiasi di malam hari lebaran, anak-anak dengan riang menikmati bunyi petasan dan percikan api dari kembang api yang dibakar.

Puas menikmati perjalanan lebaran pada hari Rabu Jam 06.00 pagi kami putuskan untuk balik ke Surabaya dengan pertimbangan jalan belum padat yang biasanya daerah Jembatan Mengkreng Kertosono sering mampet dan pasar Mojoagung sering meluber karena orang menyeberang namu karena di antisipasi berangkat pagi semuanya berjalan lancar jaya dan cenderung masih lengang. Dari seluruh rangkaian kegiatan Mudik Lebaran 1 Syawal 1430 H. dapat dipetik makna bahwa untuk mempererat tali silaturrohim dibutuhkan niat yang kuat dan perlu pengorbanan serta perjuangan yang keras, kadang walau lokasi berdekatan kalau tidak ada niat niscaya tali silaturrohim akan terputus, semoga di hari yang Fitri ini Allah SWT. selalu memberi bimbingan dan ampunan kepada kita semua.


Baca Selanjutnya...

Minggu, 19 April 2009

Pinggiran Hutan Jati nan Sejuk

Cepu - Jum'at 23 Januari 2009, Suatu kegiatan rutin yang kami lakukan sekeluarga setiap ada kesempatan adalah silaturahim ke rumah orang tua, pada kamis sore kami berkemas dari Surabaya dengan membawa perbekalan secukupnya dan yang akhir-akhir ini tidak pernah ketinggalan sepeda selalu kami naikkan di bagasi, hal ini di lakukan karena setiap ada kesempatan selalu kami gunakan untuk ngonthel sepeda.

Malam Jum'at kami gunakan untuk berkumpul dengan keluarga besar di teras rumah sambil bercengkerama dan bercerita ringan, hal seperti ini sangat membantu meringankan beban pikiran menjadi lebih segar. Yang tidak pernah ketinggalan selalu mengunjungi makanan kesukaan keluarga Sate Blora, jajanan pinggir jalan ini sangat beda dengan Sate Ayam yang pernah kami jumpai, disamping bumbunya yang khas cara penyajiannya juga berbeda. Pembeli akan dilayani sampai tuntas setiap sate yang di santap akan habis di tambahi lagi dan di tambahi lagi hingga pembeli bilang sudah, di hitung tusuknya dan makanan lainnya baru membayar, pembeli berikutnya harus sabar antri menunggui pembeli sebelumnya yang sedang makan.

Pagi-pagi sekali kami sudah mempersiapkan diri, kebetulan pasangan saya kepingin ikut yaa... apa boleh buat terpaksa cari satu sepeda pinjaman, sebetulnya kurang memenuhi syarat untuk perjalan yang agak jauh. Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 km sepeda pinjaman mulai bermasalah, ya terpaksa saya mengalah menggunakan sepeda yang ukurannya kurang pas. Dengan menyusuri jalanan pedesaan sampailah pada pinggiran hutan jati yang benar-benar sejuk, sejenak bersitirahat sambil menikmati udara yang begitu segar yang agak susah kami dapatkan di kota.

~ Pinggiran hutan jati yang sejuk dan segar


Serasa cukup istirahat dengan bertanya pada orang yang di jumpai kami melanjutkan perjalanan pulang dengan mencari jalan lain, melewati jembatan kayu berpapasan dengan beberapa orang, jalanan berikutnya aspal mulus yang naik turun, sehingga memicu untuk menggenjot sepeda dengan kencang, dengan nafas yang ngos-ngosan berhenti menunggu pasangan saya yang ketinggalan di belakang

~ Jembatan kayu tambal sulam, karena takut ya didorong saja


Berhenti sejenak di Perhutani tempat dimana orang tua kami pernah bekerja, yaahh sambil bernostalgialah duduk-duduk di atas potongan kayu jati, dibawah rimbunnya pohon trembesi, tanpa terasa kami telah menempuh perjalanan sekitar 30 km, karena jarak rumah sudah dekat dengan santai mengayuh sepeda sambil menikmati jalanan, setelah keringat mengering sarapan nasi pecel yang murah meriah sangat nikmat rasanya, bahkan melebihi nikmatnya makan di restoran.

Baca Selanjutnya...

Minggu, 12 April 2009

Rafting At Pekalen River


Probolinggo - Minggu, 19 November 2007. Setelah menempuh perjalanan panjang dari Surabaya, tepat pukul 20.00 wib kami sekeluarga tiba di tempat Wisata Pasir Putih, Situbondo. Selesai menurunkan barang bawaan kami langsung menuju ke hall tempat dilangsungkannya malam kebersamaan keluarga besar HR Area V Telkom Jatim.
Keesokan paginya selesai sarapan pagi panitia mengadakan beberapa acara keluarga, kegiatan yang dilakukan untuk membangun kebersamaan dan keharmonisan keluarga serta untuk menyambung tali silaturahim.

Selesai acara keluarga kami segera berkemas dan melanjutkan perjalanan menuju ke Probolinggo. Di sana kami akan melakukan Out bound dengan mengikuti olahraga rafting di sungai Pekalen.

Setelah selesai mempersiapkan perlengkapan, tibalah saatnya untuk seluruh peserta menuju ke lokasi start diangkut dengan kendaraan pickup. Disini kami membayangkan bagai pasukan yang akan berangkat perang.
~Pasukan katak siap diterjunkan ke sungai Pekalen

Sampai di lokasi start, kami sejenak mendengarkan instruksi dari para leader yang akan memandu selama dalam perjalanan. Sembari menunggu giliran berangkat, kami mengikuti kode penyelamatan yang di peragakan oleh leader.

Karakteristik sungai pekalen yang berbelok dan bertebing, Panorama alam yang indah, puluhan jeram (grade 2 s/d 3+) yang exotic dan menantang, kemegahan air terjun, dan kemolekan gua-gua kelelawar, serta masih ditemuinya beberapa satwa langka menjadi daya tarik tersendiri yang dapat kita nikmati selama perjalanan.
~"Boom..!!" semua mengikuti instruksi leader

Separuh perjalanan rombongan berhenti sejenak di pos peristirahatan, dengan suguhan jemblem goreng yaitu makanan khas pedesaan dan di temani dengan kelapa muda yang segerrr..

Cukup beristirahat rombongan melanjutkan petualangan sampai ke garis akhir. Di paruh perjalanan kedua jeram-jeramnya pun tidak kalah menantang, bahkan perahu karet yang kami naiki sempat tersangkut di bebatuan sehingga membuat adrenalin terpacu.
Setelah beberapa jam mengarungi jeram-jeram yang menantang, akhirnya kami tiba juga di garis finish. Suatu pengalaman rafting pertama yang sangat mengesankan.

Baca Selanjutnya...

Jumat, 10 April 2009

Holiday To Lake Sarangan

Sarangan - Sabtu, 24 Januari 2009, setelah cukup mengunjungi mertua di Cepu, Jawa Tengah. Saya bersama keluarga melanjutkan liburan kami ke Telaga Sarangan, Magetan.

~Juniorku sedang kedinginan di pinggir telaga


Liburan kami ke Telaga Sarangan bertepatan dengan acara silaturahim yang rutin di adakan setiap 3 bulan sekali dengan teman sejawat. Acara ini memang istimewa yang biasanya dari rumah ke rumah, namun kali ini kami sepakat untuk mencari tempat yang lebih santai.

Tepat jam 10 pagi kami sekeluarga sampai di penginapan yang masih sepi karena belum ada keluarga lain yang datang. Si pemilik menyambut kami dengan hangat walau cuaca saat itu terasa dingin dan beberapa saat kemudian hujan mulai turun.

~Bersama istri tercinta


Karena cuaca diluar hujan jadi kami hanya nongkrong di penginapan. Sembari menunggu yang lain, kami makan bakso yang sangat cocok dengan cuaca pada siang itu. Cukup dengan Rp. 5000,-/porsi bisa membuat perut menjadi hangat. Kurang puas memesan sate ayam yang mak nyuss.. rasanya.

Tak beberapa lama keluarga dari pak Yazid tiba di penginapan dan di susul oleh rombongan keluarga yang lain yaitu pak Pujiarto, pak Yasin, kang Asep dan pak Arif. Lengkaplah sudah seluruh keluarga berkumpul sehingga suasana menjadi hangat dan ramai oleh tingkah laku anak-anak, sedangkan yang tua ngrumpi dengan asyiknya.

Menjelang petang, walau cuaca gerimis. Kami sekeluarga menyempatkan diri untuk jalan-jalan di tepi Telaga Sarangan sambil mencari makan nasi goreng yang konon ceritanya paling ueenak di Sarangan. Ternyata benar ueenak, biarpun antrinya kayak antri sembako.

Baca Selanjutnya...

.::Pengikut Blog Ini::.

.::Banner Ku::.

Banner Ambil Disini...
<img src="cooltext439036029.png" onmouseover="this.src='cooltext439036029MouseOver.png';" onmouseout="this.src='cooltext439036029.png';" />

.::Ngaji Dulu Yukk::.

.::Album Ku::.


Must Imam Blog ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO