....:::Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh. Sugeng Rawuh Dateng MUST IMAM BLOG, Semoga Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan. Jangan lupa tinggalkan pesan Anda di Buku Tamu:::....
Must Imam Blog

.::Kenali Aku::.

Foto Saya
Mam
Olahraga dan belajar agama membuat sehat jasmani dan rohani
Lihat profil lengkapku

Selasa, 24 November 2009

Tour de Superbowl Kemang Surabaya

Surabaya, 22 November 2009 - Setelah melewati masa persiapan yang cukup lama dan melelahkan akhirnya gelaran “Tour de Superbowl Kemang Surabaya” dalam rangka hari jadi TCC yang ke 3 bisa dilaksanakan, Minggu pagi jam 05.30 waktu Surabaya beberapa bikers mulai berdatangan bahkan dalam beberapa saat saja secara berduyun-dulun para peserta touring sudah tumpah ruah di halaman parkir Ciputra Water park, berbagai macam kesibukan dilakukan mulai setting sepeda, mencoba rem, cek tekanan angin, siapkan perbekalan dls, tepat pukul 06.00 bendera start dikibarkan oleh EGM Divre V PT. Telkom, secara bergerombol sekitar 370 bikers mengikuti arah tour leader yang mengendarai motor besar hingga memasuki jalur offroad.

~ Pengibaran bendera start tanda touring di mulai


Dari awal start masih melewati jalur on road seluruh bikers mengekor panjang melalui jalan kampung Watu lawang hingga jalan makadam di seputar pura kerta bumi Bongso dengan jalan yang kadang naik cukup untuk pemanasan, saat memasuki jalur off road single track seorang biker tua melesat jauh didepan bikers lain yang sudah terpecah menjadi kelompok kecil, jalan pematang sawah gersang yang naik turun yang kadang drop off karena ada saluran air bikers dituntut konsentrasi menjaga keseimbangan, jalan cukup nyaman untuk di lalui karena sisa hujan beberapa hari sebelumnya sehingga tanah cukup empuk tidak belepotan lumpur.


~ Uji nyali di turunan Alibaba

Ketika memasuki kawasan kebun mangga yang biasa disebut Kemang suasana rindang menawan bertolak belakang dengan rute sebelumnya, para bikers bisa menikmati kenyamanan bersepeda, beberapa saat dikejutkan dengan Superbowl berupa jalan turun dengan banyak gundukan atau disebut turunan Aladin, bagi yang tidak siap bisa terjatuh namun bagi yang hobbi descading dengan sepada fullsus saatnya lepas rem menikmati ayunan sepeda, jalan panjang berkelok-kelok nan rindang suguhan berikutnya hinggga berujung di kawasan Setro sebuah turunan tajam atau biasa disebut turunan Alibaba, banyak bikers pemula yang turun dari sepeda, lokasi yang baru dilewati merupakan rute favorit offroader di kawasan Surabaya barat.

Jalan tanah dan jalan berpasir panjang wilayah Bunut hingga bukit kesamben masuk wilayah Gresik cukup menyiksa para bikers karena cuaca panas tidak banyak pepohonan, banyak bikers mulai kedodoran sehingga jauh tertinggal dari yang lain, di Pos I Randegan Sari seorang biker wanita dengan Sepeda Lipatnya harus di evakuasi ke dalam ambulance karena tidak mampu melanjutkan. Saat memasuki Petiken Driyorejo pada jalan tanjakan banyak yang harus mendorong sepeda, di jumpai seorang lady biker harus tergolek di pos kamling untuk mengatur nafas, saat ditawari naik sepeda motor menolak tetap ingin melanjutkan dengan sisa tenaga.

~ Downhill di seputaran kebun lombok

Di kawasan kebon lombok bangkingan peserta harus masuk jalur offroad yang berat, namun bagi bikers yang sudah kelihatan loyo di bypass lurus menuju PLN yang jaraknya hanya ½ km, karena akan menjumpai turunan tajam dengan bebatuan dan berpasir dipastikan bagi yang bernyali kecil akan menuntun sepedanya karena lebih sulit dari pada turunan Alibaba, begitu juga pada tanjakan sempit penuh semak di bukit seputar lapangan tembak Marinir, kalau tidak menguasai tehnik tanjakan pasti akan mendorong sepeda, offroad baru berakhir sesampai di PLN Bangkingan dengan kebanyakan kondisi peserta sudah banyak kehabisan tenaga bahkan ada seorang biker muda karena terlalu semangat harus dievakuasi karena sudah sangat lelah.

~ Tenaga sudah terkuras masih harus gendhong sepeda


Pada saat menjelang akhir finish para bikers harus melewati tantangan terakhir dengan melewati jembatan bambu yang membikin lutut gemetar karena harus mengangkat sepeda dengan sisa tenaganya, disini peran panitia sangat dominan harus bolak-balik menyeberangkan sepeda peserta yang sudah loyo sehingga tercetus nama jembatan Yuyu Kang Kang terinspirasi dari sebuah cerita, tepat jam 11 siang seluruh bikers tiba di finish di Telkom Lakarsantri dengan suguhan hidangan Soto Lamongan dan nasi pecel, menilik komentar dari beberapa bikers yang berasal dari Banyuwangi, Jember, Lumajang, Madiun, Gresik, Sidoarjo dan Surabaya tidak menyangka kota Surabaya yang bukan kota pegunungan mempunyai rute offroad yang sangat menawan.

Baca Selanjutnya...

Senin, 02 November 2009

Prosotan di Beru Gunung Wilis

Kediri, 30 November 2009 – Dalam rangka memenuhi undangan ketua TCC Jatim Djadi S. yang kebetulan sedang mensyukuri hari jadinya, TCC cabang Ketintang Surabaya dipandu oleh MTB Unlimited Kediri joint sepedahan di Beru Gunung Wilis, jam 05.30 wts. seluruh perserta sudah kumpul di terminal Bus antar kota Kediri, dua kendaraan pickup dan dua kendaraan niaga sebagai pengangkut siap mengantar ke starting point Menara Pandang Beru gunung Wilis, satu kendaraan pickup tua yang disewa terseok-seok dengan asap tebal menyusuri jalanan naik serta tiga kendaraan mengikuti dibelakang.

Rute Kediri ke arah Selo panggung memang menjadi rute favorit para bikers di kota tahu, terlihat pada minggu pagi begitu ramai para penggemar sepeda onroad baik yang muda maupun yang cukup berumur dengan nafas ngos-ngosan mencoba menaklukkan tanjakan demi tanjakan, bahkan kami sempat terkagum melihat semangat ibu-ibu dan bapak-bapak setengah baya mampu melewati tanjakan hingga sampai pos istirahat yang sudah ramai, bagi bikers yang masih mampu akan melanjutkan sampai di Menara pandang Beru bahkan ada yang terus keatas sampai antena pemancar TV swata.

~ Udara segar terasa nikmatnya


Setiba di pos menara pandang Beru tempat rombongan mulai merasakan udara segar dan angin dingin semilir, jantung terasa plong saat menghirup udara seharga 26 juta karena saking segarnya memakai istilahnya cak Giyanto, seluruh peserta touring sebayak 20 bikers mengecek kesiapan sepeda masing-masing, dengan diawali do’a untuk keselamatan dalam perjalanan dipimpin oleh cak Gembut, dari lokasi start sudah disuguhi jalan aspal menanjak. sehingga membuat kaget beberapa bikers dari TCC yang sudah berumur, namun bagi bikers MTB unlimited dengan rata-rata usia cukup muda dan menguasi medan sehingga kelihatan enjoy saja. Memasuki jalur offroad jalan setapak terus menanjak di sela-sela tebing yang dipenuhi pohon pinus, sebagian bikers kelihatan mendorong sepeda karena memang tenaga dan nafas tidak bisa dipaksakan lagi, bahkan teman kami Catur sempat berkomentar “pak mukanya koq pucat, ya sudah lemes serta agak pusing , jawabku sekenanya dengan napas agak tersengal-sengal”.

~ View gersang namun menawan


Jalan mulai melewati turunan terjal dengan sebelah kiri jurang yang sangat dalam sehingga perlu konsentrasi yang tinggi, setelah beberapa lama menahan laju sepeda bahu dan lengan terasa sakit, bikers yang lain sudah menunggu dibawah, sudah kumpul semua ayo lanjut lagi celetuk yang lain. Bagi yang baru datang mungkin ini cukup menyiksa karena belum sempat istirahat dan tenaga belum pulih serta napas belum stabil, belum berapa lama nggenjot mendorong sepeda di mulai lagi, bagi yang masih segar sebentar saja sudah jauh didepan bahkan kelihatan kecil diatas diantara pohon pinus, membuat yang dibelakang merasa kecil hati melihat tanjakan yang begitu tinggi.

Setelah mengatur nafas sejenak saatnya melewati jalan setapak turunan nan rindang, sungguh suatu kesempatan yang jarang kita jumpai apalagi di kota, gelak tawa mengiringi obrolan saat istirahat di sebuah jembatan yang sangat sejuk dengan air yang dingin, mbah Kung membuat ulah mandi di sungai menyiram kepalanya dengan helm sehingga membuat ketawa karena ulah konyolnya, cak Apri yang sejak tadi ngebut ternyata keburu kepingin buang hajat setelah ketemu sunagi sehingga jadi bahan olokan rekan yang lain, di jembatan ini terasa kebersamaan sesama bikers dengan gayeng saling tukar informasi seputar sepeda.

~ Tanah gersang hutan ditebang peladang


Di awali mendorong sepeda karena tanjakan yang gak memungkinkan untuk di genjot, saatnya melewati track downhill dengan jalur single track variasi drop off cukup banyak serta kelokan-kelokan tajam, seluruh peserta konsentrasi penuh dan menikmati, badan terasa terguncang karena hentakan jalan dengan banyak gundukan tanah, jalur yang berkelok-kelok seolah badan ikut menari mengikuti gerakan sepeda, pada suatu lokasi datar dan gersang kami berhenti sejenak untuk menikmati suatu pemandangan yang menawan di kejauhan, hutan sudah gundul karena ditebang peladang yang siap menanami ketela di musim hujan. Beberapa saat kemudian sampailah pada jalan makadam dengan bebatuan tajam sehingga sangat berbahaya bila terpeleset atau pecah ban, bahu terasa sakit karena menahan laju sepeda serta goncangan keras membuat seluruh anggota badan bergetar.

Di ujung jalan makadam bikers yang di depan menunggu sampai seluruhnya kumpul, setelah ditunggu sekian lama dua biker MTB Unlimited masih di hutan karet atau mengambil jalan atas, perjalanan dilanjutkan dengan jalan aspal berlobang turun sehingga memacu para bikers untuk kebut-kebutan, cuaca sudah panas secara bergerombol terus mengayuh sepeda hingga melewati penyeberangan sungai Brantas, tepat pukul 11.00 wts finish di kediaman sohibul hajat di kota Ngadiuwih dengan cuaca yang cukup terik, perjalanan dari menara pandang Beru sampai kota Ngadiluwih jaraknya ± 30 km dengan waktu tempuh selama ± 4 jam.

Baca Selanjutnya...

Selasa, 13 Oktober 2009

Napak Tilas Ke Air Terjun Sedudo

Surabaya, 11 Oktober 2009 - Perjalanan kurang 3 jam dari kota buaya sampai kediaman shohibul baith di kota Nganjuk terasa sangat lancar karena masih pagi, acara silaturahmi rutin setiap triwulan ini diawali dengan kangen-kangenan, suasana seperti ini memang selalu dinantikan apalagi masih dalam suasana Idul Fitri tak lupa saling berpelukan untuk bermaaf-maafan, usai beramah tamah rombongan sebanyak 6 mobil yang ikut berkonvoi menuju lokasi wisata di kota Nganjuk yang cukup terkenal wisata Air terjun Sedudo, jadi teringat 30 tahun lalu saat usia masih remaja setiap bulan Syuro dengan berjalan kaki puluhan km. untuk bisa mencapai Air terjun Sedudo. Sudah terbayang jalan berliku dengan tanjakan cukup ekstrem, ternyata benar walau sekarang kondisi jalanya sudah cukup bagus saat melihat rambu-rambu “Gigi Satu” membuat nyali jadi teruji, kalau kendaraan kurang sehat bisa fatal akibatnya, apalagi di kiri atau kanan terdapat jurang yang curam.

~ Terlihat air terjun bagai garis putih

Informasi yang beredar sekarang sudah ada tempat parkir mobil, di dalam benak kami terbayang parkir yang luas dan nyaman, memang ada namun berjajar ke belakang memakan separo jalan sehingga kalau mau lewat harus bergantian dengan di pandu petugas yang mambawa HT, di ujung jalan atas ada sedikit tempat luang untuk bisa putar balik dengan hati-hati karena depannya jurang sangat curam, pada hari minggu biasa tidak terlalu ramai masih cukup nyaman, namun pada masa liburan bisa dibayangkan repotnya untuk mendapatkan tempat parkir dengan kondisi jalan menanjak hanya cukup untuk bersimpangan bergantian, bagi pengendara sepeda motor lebih memungkinkan bisa lincah bergerak dengan perparkiran yang luas



~ Air dingin bukan halangan


Dari kejauhan sudah terlihat air terjun yang begitu menawan udara dingin mulai terasa, dengan menuruni anak tangga yang cukup panjang nan curam sampai di pelataran kolam penampungan air terjun, bagi yang berniat mandi bisa langsung menikmati sensasi dengan mandi dibawah air terjun yang terasa dipijit-pijit, namun yang enggan cukup dengan cuci muka atau cuci kaki agar bisa ikut merasakan dinginya air.

Air terjun Sedudo terletak di Desa Ngliman Kec. Sawahan. Jaraknya sekitar 30 km arah selatan Ibu Kota Kab. Nganjuk. Udaranya bersih dan sejuk. Terletak pada ketinggian 1438 m dpl. Ketinggian air terjun ini sekitar 105 meter. Masyarakat setempat masih mempercayai, air terjun in memiliki kekuatan supra natural. Lokasi wisata alam ini ramai dikunjungi orang pada setiap Bulan Syuro atau bulan Muharam dalam tahun Hijriyah. Konon mitos yang ada sejak jaman Mojopahit, pada bulan itu dipercaya membawa berkah awet muda bagi orang yang mandi di air terjun tersebut. Sebab pada bulan itulah, air terjun Sedudo dipergunakan untuk upacara ritual yaitu memandikan arca dalam upacara Parna Prahista, yang kemudian sisa airnya dipercikan untuk keluarga agar mendapat berkah keselamatan dan awet muda.


~ Tua muda besar kecil berebut mandi dibawah air terjun


Diantara begitu banyaknya pengunjung yang sedang mandi terlihat seorang nenek renta dipandu keluarganya rela menggigil kedinginan, kayaknya berkeyakinan bisa muda lagi, kalau muda lagi apa mau menikah lagi nek... Namun keyakinan seperti itu oleh beberapa rekan dalam rombongan kami menjadi bahan cerita dan gurauan yang cukup menarik, memang setelah kita menempuh perjalanan jauh badan terasa penat, mandi dibawah air terjun memang sangat menyegarkan, badan yang segar diibaratkan bagai muda lagi itu mungkin yang dimaksud awet muda, seperti yang tertulis di kaos souvenir yang banyak di pajang “semakin sering mandi air terjun Sedudo maka anda semakin awet muda” bisa saja bikin iklan biar sering berkunjung dan dagangannya laku, dua orang kakek dalam rombongan kami ikut berbabur mandi di air terjun namun dengan alasan ingin merasakan sensasinya seperti dipijit-pijit dan menikmati kesegaran air pegunungan, sebagai orang yang beriman memang seharusnya tidak meyakini hal-hal yang berbau tahayul.

~ Tidak ikut mandi nampang juga boleh

Kita lupakan cerita tahayul yang konon mandi di air terjun Sedudo bisa awet muda, kawasan wisata air terjun Sedudo cukup menarik untuk wisata keluarga, untuk mencapai pelataran kolam dengan menuruni tangga membuat nafas ngos-ngosan membuat kenangan tersendiri namun sayang fasilitas penunjang masih kurang seperti penginapan, play ground dan arena hiburan lainnya sehingga sekali berkunjung akan enggan untuk kembali, kecuali bagi para muda-mudi tidak akan bosan sering berkunjung karena lokasinya memungkinkan untuk berduaan, berlama-lama bercengkerama dibawah percikan air terjun, di salah satu papan peringatan bertuliskan "dilarang berbuat mesum bila tidak ingin menyesal kemudian hari" menandakan lokasi ini menjadi tempat favorit para remaja.

Baca Selanjutnya...

Kamis, 24 September 2009

Serba-Serbi Perjalanan Mudik 2009

Surabaya, 18 September 2009 - Tradisi mudik merupakan kegiatan yang tidak akan terlewatkan bagi sebagian besar masyarakat, setelah sebulan menjalankan kewajiban puasa Ramadhan maka tibalah saat yang ditunggu-tunggu untuk bisa berkumpul dengan orang tua, saudara, kerabat dan handai taulan guna mempererat tali silaturrohim, maka sudah bisa dibayangkan semangat untuk mudik sangat menggebu walau untuk mewujutkan hal tersebut diperlukan perjuangan yang tidak ringan mulai dari persiapan waktu libur atau cuti yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, modal yang tidak sedikit, berdesak-desakan karena jalanan macet dan masih banyak lagi cerita seputar mudik.

Bagi keluargaku mudik merupakan suatu kewajiban kecuali bila ada alasan yang lebih penting, walau tujuan mudik tidak terlalu jauh hanya ke kota minyak Cepu dan kota tahu Kediri namun dengan kondisi jalan yang padat dan jalan bergelombang memerlukan ekstra hati-hati agar selamat sampai di tujuan. Kami memulai perjalanan dari Surabaya Jum'at pagi dengan harapan jalan belum terlalu padat dan bisa sampai di Cepu sebelum sholat Jum'at, ternyata cukup ampuh perjalanan cukup lancar hanya kendaraan R2 yang mendominasi jalan, banyak pengendara R2 yang kurang disiplin dalam berlalu-lintas dengan berjalan zig-zag bahkan banyak yang terlalu ke kanan sehingga memakan jalur mobil belum lagi ditambah dengan barang bawaan yang ekstra banyak tanpa mengindahkan keselamatan, perjalanan juga sedikit terganggu dengan adanya beberapa pasar tumpah, pengunjung yang ramai mungkin belanja untuk persiapan Lebaran. Pasar Babad yang biasanya semrawut ternyata lancar mungkin karena masih jam 07.30 pagi, baru di pasar Baureno Dokar, sepeda motor tumplek bleg sehingga jalan tersendat dan beberapa pasar hampir sama keadaannya, setelah menyusuri jalan bergelombang Bojonegoro ke arah Cepu jam 09.30 sampai juga di rumah dengan udara yang sangat panas bahkan lebih panas dari kota Surabaya yang terkenal cukup panas.

Setelah menuntaskan puasa hari yang ke 29 seusai magrib masih bertanya-tanya apakah hari minggu masih berpuasa, walau sedih ditinggalkan bulan Ramadhan yang penuh ampunan lega juga bisa menyelesaikan puasa secara penuh, Pada jam 19.00 malam ada pengumuman dari menteri agama bahwa lebaran jatuh hari Minggu seketika suasana menjadi riang gembira terutama anak-anak. Di masjid, langgar, mushola dan surau langsung dikumandangkan Takbir dengan menyebut kebesaran Illahi. Pagi sekali sudah banyak warga yang berduyun-duyun menuju masjid untuk melaksanakan sholat Idul Fitri dengan dilanjutkan bersalam-salaman, barulah saat yang di tunggu tiba dengan duduk berjajar di ruang tamu untuk menunggu giliran bersalam-salam antar saudara, tangis bahagia mengiringi acara jabat tangan dan anak-anak sudah menunggu moment berikutnya pembagian uang sangu lebaran, tidak membedakan besar kecil mendapatkan jatah yang sama, moment yang sayang untuk dilewatkan dan tidak akan didapatkan di luar lebaran.

~ Raut wajah anak-anak yang bahagia

Tradisi saling mengunjungi masih terasa walau tidak seramai tahun-tahun sebelumnya, secara bersama keluarga besar kami mengunjungi sanak saudara dan kerabat, bahkan ketika memasuki rumah yang di kunjungi sering tidak muat karena banyaknya rombongan, namun tidak masalah tetap saja bahagia karena bisa ketemu saudara walau mungkin hanya setahun sekali bertepatan hari lebaran. Usai acara silaturohhim rasanya kurang lengkap kalau tidak mencicipi kuliner khas daerah Cepu antara lain tempe mendoan, serabi hangat, aneka bakso, soto daging Bondet, sate ala Blora, ayam goreng kremes, bubur campur dan masih banyak lagi yang bisa dipilih, memang di setiap kota hampir semua jenis makanan tersebut ada namun dengan resep yang beda akan rasanyapun jadi beda.

~ Nostalgia masa kecil
Pada hari kedua lebaran jam 13.00 siang kami melanjutkan perjalanan ke Kediri dengan jalan sangat bergelombang, sebagian jalan antara Padangan ke kota Ngawi sangat parah jalan kelihatan halus namun kalau tidak waspada mobil bisa terpental jadi kesabaran kita untuk tidak terlalu memacu mobil diuji disini, dan selapas Ngawi melewati Karangjati, Caruban hingga Saradan lancar dari Saradan ke arah kota Nganjuk sudah tradisi setiap tahun selalu padat bahkan cenderung merayap dan macet, lepas dari kepadatan di Nganjuk menuju kota Kediri tepatnya di Gringging sangat lancar, sehingga tepat jam 16.00 sudah sampai dirumah dengan udara yang sangat berbeda dengan di kota sebelumnya, disini tiupan anginnya sangat keras karena memang terkenal kota angin, bahkan di malam hari suara angin terdengar kemerosok meniup pepohonan, cuaca yang cukup sejuk dan dingin sangat nyaman untuk beristirahat.

~ Main Kembang mengasyikan
Tradisi yang sudah turun-temurun masih sangat kenthal di pedesaan di wilayah Gringging bahkan Kediri, acara silaturrahim dengan saling mengunjungi masih sangat ramai, mengunjungi kerabat yang rumahnya di desa seberang cukup jauh tidak menyurutkan niat. Kalau di amati yang membedakan lebaran jaman dahulu banyak anak-anak yang memakai sarung dan songkok namun lebaran sekarang sudah banyak yang pakai celana Jean tanpa songkok yaahh... mungkinkah itu karena pengaruh budaya dari kota. Main petasan dan kembang api masih menghiasi di malam hari lebaran, anak-anak dengan riang menikmati bunyi petasan dan percikan api dari kembang api yang dibakar.

Puas menikmati perjalanan lebaran pada hari Rabu Jam 06.00 pagi kami putuskan untuk balik ke Surabaya dengan pertimbangan jalan belum padat yang biasanya daerah Jembatan Mengkreng Kertosono sering mampet dan pasar Mojoagung sering meluber karena orang menyeberang namu karena di antisipasi berangkat pagi semuanya berjalan lancar jaya dan cenderung masih lengang. Dari seluruh rangkaian kegiatan Mudik Lebaran 1 Syawal 1430 H. dapat dipetik makna bahwa untuk mempererat tali silaturrohim dibutuhkan niat yang kuat dan perlu pengorbanan serta perjuangan yang keras, kadang walau lokasi berdekatan kalau tidak ada niat niscaya tali silaturrohim akan terputus, semoga di hari yang Fitri ini Allah SWT. selalu memberi bimbingan dan ampunan kepada kita semua.


Baca Selanjutnya...

.::Pengikut Blog Ini::.

.::Banner Ku::.

Banner Ambil Disini...
<img src="cooltext439036029.png" onmouseover="this.src='cooltext439036029MouseOver.png';" onmouseout="this.src='cooltext439036029.png';" />

.::Ngaji Dulu Yukk::.

.::Album Ku::.


Must Imam Blog ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO